![]() | Salah satu Vihara tertua di Indonesia adalah Vihara Avalokitesvara yang dibangun pada abad ke-16. Disini terdapat patung Dewi Kwam Im peninggalan pada masa Kaisar China, pada masa Dynasti Ming. Avalokitesvara diambil dari sebutan Kwan Im Hut Cou atau Dewi Kwan Im dalam bahasa Sanskerta. Dewi welas asih itu diyakini sering menolong manusia saat dihadapkan pada berbagai kesulitan. Tempat
peribadatan itu dibangun tahun 1652 oleh Syekh Syarif Hidayatullah yang
kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Songo.
Vihara itu dibangun saat Syarif Hidayatullah menjadi Sultan Banten. |
Awalnya klenteng ini dibangun di Desa Dermayon, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Saat pertama kali dibangun, Vihara China itu diberi nama Bantek Ie yang berarti sejuta kebajikan. Pada tahun 1774, Vihara ini pindah ke tempat sekarang, kampung Pamarican, desa Banten (Kawasan BANTEN LAMA). Pamarican, yang dahulu pusat perdagangan lada antarnegara, terletak
sekitar 10 kilometer di utara Kota Serang. Lokasinya hanya 500 meter di
sebelah utara Masjid Agung Banten Lama dan Keraton Surosowan, istana
kerajaan Islam Banten, dekat dengan Teluk Banten dan Benteng Spelwijk. Klenteng ini sempat dipugar lagi 1932. Kini ia jadi tempat ibadah bagi umat Taoisme, Buddha dan Khong Hu Chu. Secara Buddha, namanya adalah Vihara Avalokitesvara. | ![]() |
Syekh Syarif Hidayatullah membangun vihara itu setelah menikahi putri Tiongkok bernama Ong Tien Nio. Rombongan putri dari marga Ong itu tiba di Teluk Banten lantaran kehabisan bekal dalam perjalanan menuju Surabaya. Iring-iringan kapal putri Tiongkok itu kemudian berlabuh di Kali Kemiri, dekat Keraton Surosowan. Sultan Syarif Hidayatullah yang kebetulan berjalan-jalan melihat putri tersebut. Merasa tertarik, Sultan lalu menikahi sang putri.
Sang putri bersama sebagian pengikutnya memilih masuk Islam, sebagian lainnya tetap memeluk agama Buddha.Para pemeluk Buddha terpaksa beribadah di tepi pantai karena belum ada tempat beribadah. Atas permintaan istrinya, Syarif Hidayatullah mendirikan kelenteng. Selain itu, Sultan juga membangun masjid untuk para pengikut putri yang masuk agama Islam.

Hingga kini, Vihara tersebut kerap didatangi ribuan peziarah dari
sejumlah negara, misalnya Belanda, Jerman, dan Thailand. Vihara itu
sering didatangi para peziarah karena terdapat altar Dewi Kwan Im. Di
dalam Vihara juga terdapat 15 altar lain, seperti altar Thian Kong yang
berarti Tuhan Yang Maha Esa dan Sam Kai Kong atau penguasa tiga alam.
Dikomplek Vihara terdapat penginapan untuk pengunjung yang hendak
bermalam.
Ribuan peziarah datang terutama pada bulan keenam lunar kalender Imlek, peringatan Lak Gwe Cap Kau. Peringatan itu dilakukan saat Dewi Kwan Im mendapatkan kesempurnaan.